Paket sanksi ini menargetkan tujuh individu dan organisasi. Meskipun nama-nama resmi belum diumumkan secara terbuka, media Israel melaporkan sejumlah nama yang masuk dalam daftar hitam, di antaranya organisasi permukiman Amana, Nachala, Hashomer Yosh, dan Regavim.
Individu yang dikabarkan masuk sanksi antara lain Daniella Weiss yang dijuluki "ibu baptis" gerakan pemukim, serta CEO Regavim, Meir Deutsch.
Sanksi tersebut akan mencakup pembekuan aset di yurisdiksi UE dan larangan masuk bagi individu yang masuk daftar hitam.
Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, dengan tegas menolak keputusan tersebut. Melalui media sosial, ia menyebut sanksi itu sewenang-wenang dan bermuatan politik serta tidak memiliki dasar hukum yang jelas.
Ia menyatakan Israel akan terus "membela hak orang Yahudi untuk menetap di jantung tanah air kami.
Sementara itu, beberapa menteri luar negeri negara anggota UE, seperti Spanyol dan Irlandia, menyambut baik keputusan ini.
Namun, mereka juga mengkritik blok tersebut karena gagal mencapai konsensus untuk mengambil langkah lebih tegas terhadap Israel, seperti membekukan perjanjian asosiasi atau melarang produk impor dari permukiman.
Kelompok kiri Parlemen Eropa menilai ruang lingkup sanksi masih tidak memadai dan menyebutnya sebagai sebagian kecil yang menyedihkan dari apa yang diperlukan untuk mengekang pelanggaran hukum internasional oleh Israel.