Sebagai imbalannya, Iran menuntut pencabutan sanksi dan pengakuan haknya untuk memperkaya uranium. Para diplomat Iran menetapkan tiga syarat utama: pengakuan hak simbolis Iran untuk memperkaya uranium, izin untuk mengencerkan stok uranium yang telah diperkaya tinggi, dan tidak adanya kontrol terhadap program rudal balistik mereka.
Namun, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio justru memberikan peringatan keras. Ia menyebut akan menjadi masalah besar jika Iran menolak merundingkan masalah rudal mereka.
"Iran menolak untuk membahas rudal balistik kepada kami atau siapa pun, dan itu masalah besar," tegas Rubio kepada wartawan, Rabu (25/2/2026).
Di tengah perundingan, Amerika Serikat terus menggelar kekuatan militernya di kawasan. Sebanyak 12 pesawat tempur siluman F-22 dilaporkan telah mendarat di sebuah pangkalan udara Israel pada Selasa (24/2) sebagai bagian dari pengerahan militer AS di wilayah Timur Tengah.
Kapal-kapal perang AS yang biasanya bersandar di Bahrain, markas Armada ke-5 Angkatan Laut AS, juga terpantau bergerak ke laut lepas sebagai langkah antisipasi. Beberapa kapal perusak AS bergerak ke Laut Arab utara.
Trump sebelumnya memberikan ultimatum kepada Iran untuk mencapai kesepakatan dalam waktu 10-15 hari, memperingatkan bahwa jika tidak, "hal-hal yang sangat buruk" akan terjadi.
Sementara itu, Kepala Staf Umum Iran Mayor Jenderal Abdolrahim Mousavi mengungkapkan perubahan pendekatan strategis Tehran.