Sambil berjalan di antara puing-puing rumahnya, Hussein Nehme (60) meratapi kehilangan yang lebih dari sekadar sebuah rumah. Menurutnya, yang telah lenyap adalah tempat yang selama ini membentuk kehidupan sehari-hari dan menyimpan kenangan-kenangannya.
"Tidak ada seorang pun dari keluarga saya yang tewas," katanya. "Namun, desa saya telah mati."
Warga lainnya, Hassan Zeineddine, kembali ke desanya untuk mencari barang-barang pribadinya yang terkubur di bawah puing-puing.
"Apa yang saya cari bukanlah barang-barang berharga," katanya. "Saya mencari foto-foto, kenangan, dan barang-barang kecil yang memiliki nilai emosional bagi keluarga saya."
Seiring keluarga-keluarga mulai kembali menempati rumah mereka secara bertahap, tentara Lebanon terus memperkuat pengerahannya di Zawtar al-Gharbiyah. Sementara itu, satuan zeni melakukan survei di kawasan permukiman serta menyingkirkan persenjataan yang belum meledak dan sisa-sisa perang lainnya guna memastikan wilayah tersebut aman bagi warga yang kembali.
Tak jauh dari sana, di antara puing-puing yang berserakan, Zeinab Harb (40) membentangkan kasur di atap rumahnya yang rusak.
"Saya akan tidur di atap rumah saya," katanya kepada Xinhua, seraya menegaskan tidak ada yang akan memaksanya meninggalkan tempat itu lagi. "Tetap tinggal di sini adalah cara saya merebut kembali tempat saya. Bahkan setelah perang, rumah tetaplah rumah."