Sejak Selasa (28/7) pagi waktu setempat, puluhan kendaraan telah berkumpul di pintu masuk barat kota itu, menunggu izin untuk masuk. Suasana dipenuhi perpaduan antara sukacita karena dapat kembali dan kecemasan untuk mengetahui apakah rumah-rumah yang mereka tinggalkan berbulan-bulan lalu masih berdiri.
Sebagian warga membawa makanan dan air, bersiap untuk tinggal di sana. Sementara itu, yang lain menggenggam kunci rumah mereka, tanpa mengetahui apakah kunci itu masih akan membuka pintu menuju rumah yang mereka kenal atau hanya mengantarkan mereka ke tumpukan puing.
Abed Ezzeddine, sang wali kota, menggambarkan kepulangannya sebagai pengalaman yang sangat mengguncang.
"Saat saya masuk, saya bahkan tidak bisa lagi mengenali lokasi rumah saya sendiri," katanya. "Saya sudah tidak tahu lagi tumpukan puing mana yang dulunya adalah rumah saya."
Survei awal yang dilakukan pemerintah kota menunjukkan sekitar 250 rumah hancur total, sekitar 200 rumah mengalami kerusakan berat, dan 40 rumah lainnya mengalami kerusakan ringan, papar Ezzeddine.
Terlepas dari kehancuran yang terjadi, warga tetap bertekad untuk kembali, memandang kepulangan mereka sebagai penegasan atas ikatan abadi dengan kampung halaman mereka.