Sebelum blunt_id menggelar song list-nya, ada satu adegan bassist dan kru sempat kebingungan mencari colokan kabel bass ke ampli. Sebagai penikmat gigs yang meskipun hidup pas-pasan tapi pernah tinggal dan menjelajahi Inggris untuk nonton monster Britrock, seperti The Verve, The Stones Roses hingga Gorillaz, saya terkekeh menyaksikan kebingungan itu. Dimana-mana, dari mulai pentas Indie hingga band legendaris, momen yang bikin ruwet kru dan personil band itu memang selalu hadir tanpa diduga.
Setelah urusan kabel selesai, blunt_id langsung menghentak dengan lagu-lagu terbaru mereka, seperti Relakan, Angkuh, dan Abadilah Republik Indonesia. Saya tercengang ketika mereka juga membawakan “Disco 2000” dari Pulp”. Saya langsung merasakan denyut emosi yang lain.
Pulp adalah salah satu nama penting dari gelombang musik Britrock. “Disco 2000” sendiri membawa energi yang berbeda dari lagu-lagu blunt_id yang baru dirilis di platform digital. Saya jadi merasakan respek yang lain pada band yang namanya merupakan akronim dari “Band Lawas Unjuk Taring” ini. Setelah bertahun-tahun tinggal di Inggris, kembali ke Bandung, saya merasakan energi Britrock yang sama besarnya, sebagaimana ketika repertoar itu dibawakan oleh musisi-musisi Inggris.
Blunt_id berhasil mempertemukan Bandung dengan Sheffield. Saya suka menemukan hal-hal seperti ini. Momen di mana musik menjadi suara universal. Tidak perlu paspor, tidak perlu visa, gitar tinggal bunyi, drum tinggal hentak, dan bass tinggal cabik.