Saya tidak mengorek rahasia mereka mengapa betah main bersama, tidak pernah ganti personil dalam 31 tahun ini. Mungkin ada resep khusus, atau mungkin karena mereka sudah terlalu lama bersama, sehingga kalau mau bubar pun akan sangat bingung harus bagaimana bagi-bagi kenangan.
Tetapi ada sesuatu yang saya tahu pasti, “Mereka masih sangat enjoy main musik bareng.” Dan itu terlihat jelas ketika mereka bermain di atas pentas hari terakhir Ngabandungan Festival 2026, yang terbuka untuk umum, namun dipersembahkan spesial untuk orang-orang seperti saya, mereka yang pernah remaja pada tahun 90an, ketika musik alternative rock sedang jaya-jayanya.
Saya mendatangi mereka di tenda penampil demi nostalgia tahun 90an. Ketika mereka masih bernama Bloody Marry, dan kerap tampil di pensi-pensi sekolah menengah kota Bandung, yang waktu itu belum menjadi agenda wajib seperti sekarang. Kami bercakap mengenang masa-masa mereka tampil dalam intimate concert atau sesi musik bebas band pendatang baru, yang dulu kerap diinisiasi oleh radio-radio legendaris kota Bandung, seperti OZ Radio, GMR Rock Station, MGT Radio, atau Ardan Radio.
Saya juga tergerak mendatangi mereka, karena tiba-tiba saya diperdengarkan lagu “Relakan” setahun lalu di platform digital Spotify oleh karib saya, yang menjelaskan bahwa blunt_id yang merilis lagu ini, tak lain dan tak bukan adalah evolusi dari band Bloody Marry.