Mendengar “Relakan” langsung di GOR Padjadjaran adalah pengalaman yang berbeda, dengan pengalaman yang saya dapatkan dari mendengarkan lewat earbuds. Saya berani mengatakan, versi live-nya lebih bagus daripada versi recording.
Mungkin ini subjektif. Tetapi bukankah selera musik memang selalu sedikit subjektif ? Sebuah rekaman adalah hasil akhir. Tapi sebuah pertunjukan langsung adalah kehidupan. Di rekaman, semua sudah berada pada tempatnya. Tempo sudah ditentukan. Instrumen sudah direkam. Suara sudah diatur. Tidak ada kejutan.
Sedangkan di panggung, musik bernapas. Ada energi dari pemain. Ada reaksi penonton. Ada interaksi antar kru panggung. Ada sesuatu yang tidak bisa ditangkap sepenuhnya dari speaker atau headphone.
“Relakan” di panggung terasa lebih hidup. Lebih emosional. Lebih lepas. Seolah-olah lagu yang sudah lama disimpan itu akhirnya mendapatkan ruangan yang cukup luas untuk bernapas. Dan saya tiba-tiba memahami sesuatu. Sebuah lagu memang seharusnya keluar dari rekaman, untuk menemui pendengarnya secara langsung.
***