"Setiap musim panas mengingatkan kita bahwa karhutla bukan lagi sebuah peristiwa luar biasa, melainkan konsekuensi yang semakin dapat diprediksi dari iklim yang memanas," ujar Paola Deda, direktur Divisi Lingkungan dan Kehutanan UNECE. "Meski upaya tanggap darurat tetap esensial, peluang terbesar kita terletak pada langkah pencegahan, pengelolaan hutan yang berkelanjutan, serta pembangunan bentang alam dan masyarakat yang lebih tangguh."
Seiring karhutla yang terus berkobar di seluruh Eropa dan Amerika Utara, yang menghancurkan hutan-hutan, mengancam masyarakat dan melepaskan karbon dalam jumlah sangat besar ke atmosfer, musim kebakaran 2026 lagi-lagi menunjukkan bahwa meskipun banyak kebakaran tidak dapat dihentikan saat mencapai intensitas penuh, masih banyak upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah bencana di masa mendatang, papar UNECE.
Foto yang diabadikan pada 25 Juli 2026 ini menunjukkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di area Lembah Tietar di Provinsi Avila, Spanyol. (Xinhua/Bruno Thevenin)
Karhutla mengancam jiwa, menghancurkan rumah, infrastruktur dan mata pencaharian, serta memaksa seluruh masyarakat untuk mengungsi. Dampak yang ditimbulkan menjangkau jauh melampaui perimeter kebakaran. Asap dapat menyebar hingga ratusan bahkan ribuan kilometer, menurunkan kualitas udara, serta meningkatkan risiko penyakit pernapasan dan kardiovaskular di area-area yang jauh dari sumber api.