Selain itu, ia memaparkan strategi mendorong pertumbuhan ekonomi melalui hilirisasi agroindustri. Payakumbuh dinilai memiliki posisi strategis, termasuk dengan keberadaan rumah potong hewan modern dan industri rendang yang perlu diperkuat pasokannya dari daerah sekitar.
“Hilirisasi ini sesuai arahan Presiden dan sudah kita masukkan dalam RPJPD Sumatera Barat. Dampak ekonominya akan sangat besar jika dijalankan secara serius,” katanya.
Transformasi sektor pariwisata juga menjadi perhatian, termasuk rencana penguatan konektivitas Payakumbuh dengan Limapuluh Kota melalui sistem transportasi yang lebih aman dan nyaman.
Sementara itu Walikota Payakumbuh, Zulmaeta memaparkan posisi strategis daerahnya yang berada di tengah Pulau Sumatera dan menjadi penghubung antara Provinsi Sumbar dan Riau. Ia menyebut secara geografis Payakumbuh relatif aman dari bencana besar, meski tetap memiliki potensi banjir karena dilalui tiga sungai.
“Payakumbuh ini satu-satunya kota di Sumatera Barat yang dilalui sungai. Sungai memberi manfaat, termasuk objek wisata kuliner, tapi juga berpotensi banjir,” jelasnya.
Ia juga menyoroti suhu udara Payakumbuh yang sejuk dan mendukung aktivitas kuliner hingga 24 jam, sehingga menjadi daya tarik sekaligus peluang ekonomi yang terus dikembangkan.
“Kuliner di Payakumbuh bisa hidup 24 jam. Tengah malam pun orang masih datang untuk makan,” ujarnya.