Meski demikian, Ia mengatakan bahwa penerapan teknologi geoinformatika di Indonesia masih menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki karakteristik geografis yang jauh lebih kompleks dibandingkan negara-negara kontinental seperti Tiongkok, Thailand, maupun Amerika Serikat. Luas wilayah, banyaknya pulau, kondisi topografi yang beragam, serta dominasi wilayah perairan menuntut sistem pemantauan yang lebih adaptif, berkelanjutan, dan didukung infrastruktur data yang kuat.
Oleh karena itu, pengembangan teknologi penginderaan jauh tidak dapat dilakukan secara parsial. Diperlukan sinergi antara lembaga riset, kementerian, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, serta masyarakat dalam membangun ekosistem geoinformatika nasional yang terintegrasi.
“Dengan dukungan data spasial yang akurat, mutakhir, dan mudah diakses, Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk membangun sistem pangan yang tangguh dan adaptif terhadap perubahan iklim. Kondisi tersebut juga menjadi landasan penting untuk mewujudkan ketahanan, kemandirian, dan kedaulatan pangan nasional,” Dede mengatakan. dilansir brin.go.id