Beranda Kolom Penjualan Retail AS Melonjak Seiring Kenaikan Harga BBM di Tengah Konflik AS-Iran

Penjualan Retail AS Melonjak Seiring Kenaikan Harga BBM di Tengah Konflik AS-Iran

Foto yang diabadikan pada 31 Maret 2026 ini menunjukkan harga bensin yang ditampilkan di sebuah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di New York, Amerika Serikat (AS). Harga bensin di SPBU AS melonjak hingga melampaui 4 dolar AS (1 dolar AS = Rp17.142) per galon untuk pertama kalinya sejak musim panas 2022, seiring perang di Iran menyebabkan lonjakan harga minyak, demikian dilaporkan Washington Post. (Carapandang/Xinhua/Zhang Fengguo)

0
Xinhua

Para ekonom berpendapat bahwa jika konflik berlanjut, harga energi akan semakin naik, menguras dompet warga Amerika yang bergantung pada kendaraan pribadi sebagai alat transportasi utama.

CARAPANDANG.COM, WASHINGTON -- Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) akibat konflik di Iran, yang kini memasuki bulan kedua, mendorong lonjakan penjualan retail Amerika Serikat (AS) sebesar 1,7 persen pada Maret, menurut data yang dirilis oleh Departemen Perdagangan AS pada Selasa (21/4).

   Data menunjukkan bahwa penjualan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) melonjak 15,5 persen, kenaikan terbesar sejak pemerintah memulai pencatatan pada 1992.

   Meskipun kenaikan dalam penjualan retail biasanya dianggap positif, peningkatan angka-angka tersebut yang berdasarkan kenaikan harga BBM merupakan kabar buruk bagi konsumen.

   Perang di Iran telah berkecamuk sejak 28 Februari, mengganggu pelayaran di Selat Hormuz, yang dilalui sekitar 20 persen minyak dunia, menyebabkan harga minyak melonjak.

   Para ekonom berpendapat bahwa jika konflik berlanjut, harga energi akan semakin naik, menguras dompet warga Amerika yang bergantung pada kendaraan pribadi sebagai alat transportasi utama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terkait
Berita Terkait