Menurut dia, tubuh membutuhkan penyesuaian secara bertahap, sehingga sangat kesulitan menghadapi perubahan suhu yang terlalu sering atau “guncangan suhu” bisa berisiko muncul gejala yang menyerupai flu biasa.
Aspek lain yang perlu diperhatikan terkait kelembapan udara. AC menciptakan udara yang sangat kering karena menghilangkan banyak kelembapan dari ruangan.
Dr. Gopal menyampaikan kelembapan udara di dalam ruangan sebaiknya berada di kisaran 40 hingga 60 persen. Jika AC digunakan terlalu lama, kelembapan bisa turun menjadi 20 hingga 30 persen.
“Udara kering membuat lapisan lendir di hidung mengering sehingga lebih lemah dan kurang mampu menangkap virus maupun polutan,” tutur dia.
Dokter Gopal menyampaikan bahwa udara lembap secara alami membantu mengembalikan kelembapan pada saluran hidung dan tenggorokan yang kering, mengurangi iritasi yang disebabkan oleh udara kering AC.
Oleh karena itu, banyak orang merasa gejala seperti hidung tersumbat, tenggorokan kering, dan “flu musim panas” berkurang setelah pindah ke lingkungan yang lebih lembap.
Kondisi AC juga bisa menjadi penyebab gejala “flu musim panas” yang terus berulang. Dokter Gopal mengingatkan pentingnya membersihkan filter AC secara rutin.
Jika tidak dibersihkan, filter dapat dipenuhi debu, serbuk sari, jamur, dan bakteri yang kemudian beredar di udara yang dihirup.