“Ini peluang emas bagi UMKM kita. Kami membuka kerja sama dengan pengrajin daerah sekitar dan berharap provinsi memfasilitasi hilirisasi produk handycraft agar mampu menembus pasar ekspor,” ujarnya.
Selain itu, Pemko Payakumbuh juga meminta dukungan peningkatan kualitas lulusan SLTA agar lebih banyak diterima di perguruan tinggi unggulan, serta fasilitasi penyelesaian tapal batas dan peralihan aset antara Pemko Payakumbuh dan Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota.
Menanggapi berbagai usulan tersebut, Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi menegaskan tahun 2026 harus menjadi titik balik kebangkitan ekonomi Sumatera Barat setelah menghadapi berbagai tekanan sepanjang 2025.
“Tantangan 2025 adalah wake up call bagi kita semua. Tahun 2026 harus menjadi langkah awal transisi dari ekonomi berbasis komoditas mentah menuju industri olahan, digital, dan berwawasan lingkungan. Target pertumbuhan 5,7 persen bukan mustahil jika transformasi kita mulai hari ini,” tegas Mahyeldi.
Ia memaparkan empat strategi utama pembangunan daerah. Pertama, hilirisasi agroindustri dengan menghentikan ekspor bahan mentah dan mendorong investasi industri pengolahan.
Menurutnya, potensi devisa ekspor sebesar Rp20 triliun dapat memicu dampak ekonomi hingga Rp80 triliun serta menyerap sekitar 240 ribu tenaga kerja hingga 2029.