Ketika ditanya mengenai rencananya setelah kembali ke Indonesia, Badri membagikan poin penting yang dipetiknya. "China sudah menjadi salah satu negara terdepan dalam bidang teknologi dan sains. Saya akan menyampaikan kepada para mahasiswa dan pimpinan perguruan tinggi bahwa kita perlu belajar lebih banyak dari China, bukan hanya mengenai teknologi AI, tetapi juga semangat yang kuat untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi."
Menurut Badri, kerja sama AI antara China dan ASEAN bukan sekadar ekspor teknologi satu arah, melainkan hubungan yang saling melengkapi dalam hal sumber daya, pasar, dan teknologi. China memiliki keunggulan dalam kapasitas komputasi, algoritma, serta sumber daya kurikulum digital, sementara ASEAN memiliki sumber daya alam yang beragam dan populasi pemuda yang besar. Integrasi berbagai keunggulan tersebut akan membangun model pengembangan AI regional yang inklusif, sehingga AI menjadi jembatan yang menghubungkan China dan negara-negara ASEAN.
sumber: Xinhua News