"Saya kan bukan intel, bukan pasukan. Tapi saya lihat, kok amatir banget gitu loh? Saya pun gemes lihatnya. Kalau kayak gitu, kasih aja ke orang, nggak usah pakai orang BAIS. Kayak gitu kan malu-maluin BAIS," ujar hakim dalam persidangan.
Novel juga mengkritik pernyataan mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, Soleman B. Ponto, yang menganggap penyiraman air keras terhadap Andrie hanya sebagai "kenakalan orang terlatih" dan bukan operasi intelijen.
"Ini cara berpikir yang menurut saya memprihatinkan. Disiram air keras itu sakit sekali, lukanya pun luka berat. Artinya, tindakannya itu tindakan serius, sangat berat," tegas Novel.
Sebagai sesama penyintas serangan air keras, Novel mempertanyakan arah pembelaan hakim.
"Sikap hakim yang menyayangkan tindakannya tidak profesional. Hakim maksudnya apa? Apa dia mau menyuruh untuk dilakukan lagi dengan lebih profesional?" ujarnya.
Novel pun berharap publik terus mendukung Andrie yang saat ini masih menjalani perawatan intensif di RSCM. Ia mengingatkan proses pemulihan korban jangan sampai terganggu oleh tekanan-tekanan dari proses hukum yang tidak berpihak kepadanya.
"Saya berharap Andrie Yunus betul-betul bisa mendapatkan proses pemulihan yang terbaik, bisa lekas sembuh. Jangan sampai ada langkah-langkah atau tindakan yang justru membuat Andrie Yunus semakin disudutkan," pungkas Novel.