Putus asa tidak pernah masuk ke dalam hati Nabi Ya’qub yang penyabar itu. Justru semuanya diisi dengan sangkaan baik kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, serta sebaik-baik tawakal dan penyerahan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Beliau lalu berkata kepada anak-anaknya melalui lisan seorang yang tabah, tawakal, dan berbaik sangka kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
“Wahai anak-anakku, pergi dan carilah berita tentang Yusuf beserta saudaranya. Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah, kecuali kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87).
Selama apa pun waktu yang telah berlalu sejak ia hilang, janganlah kalian berputus asa dari jalan keluar dan rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena putus asa dari rahmat-Nya merupakan sifat orang-orang kafir.
Nabi Ya’qub Alaihissalam menjalankan langkah-langkah untuk keluar dari kesulitan dan melewatinya, dan ini tertuang dalam lima perkara:
Pertama: Bersabar. Allah Ta’ala berfirman: “(Kesabaranku) adalah kesabaran yang baik.” (QS. Yusuf: 83).
Kedua: Berbaik sangka kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semua kepadaku. Sesungguhnya hanya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Yusuf: 83).
Ketiga: Menyerahkan urusan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, serta bertawakal dan bersandar hanya kepada-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: