Beranda Kolom Memoar Warisan Yang Kupikul

Memoar Warisan Yang Kupikul

0
Memoar Warisan Yang Kupiku

Sesibuk-sibuknya mengais setakar beras, tapi mereka tau tulusnya cinta, membesarkanku dengan kasih tanpa batas, dan tak peduli tidak punya buku panduan.

Kita hanyalah musafir, singgah sebentar lalu pergi “Pada akhirnya takdir Allah selalu baik, walau terkadang perlu air mata untuk menerimanya”, kata Umar Bin Khattab.

Terkadang yang paling cepat bukan angin, waktu seperti anak panah yang lepas dari busurnya, sekali lepas terus melaju dan takkan kembali.

Semua berakhir disini, “Tidak ada orang lain yang bisa dipertanggungjawabkan perasaanmu”, kata Osho. Aku salah mengerti tak ada yang mengerti betapa besarnya cintaku.

Saatnya masuki chapter baru, memberi peluang diri menjadi versi baru agar tak jadi serpihan. Aku tidak percaya lagi untuk saling’ itu apa, keraguan adalah perantara, semua harus ditempuh sendirian.

Lagi pula 1000 milyar yang hidup, pada akhirnya menuju akhir yang sama hari-hari yang tiba saat tiba waktu menjadi kenangan. Tidak mengira kisah akan lama, musim berganti, orang-orang berubah, tapi perlahan menjauh.

Pilihan yang bisa membuatku bahagia dan tidak lagi terluka saat ini adalah. Tuhan biarkan kesempatan aku luruh teduh dalam sepi, aku ingin mencari rumah untuk doa mengenali diri.

Ilusi yang kupelihara tak perlu lagi banyak tanya. Bukan berarti menoleh ke belakang semuanya buruk, sebab waktu takkan mungkin bisa menghapusnya.

  • Tags

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terkait
Berita Terkait