Beranda Kolom Memoar Warisan Yang Kupikul

Memoar Warisan Yang Kupikul

0
Memoar Warisan Yang Kupiku

Orang lain bisa melihat jasadnya dari dekat, sedangkan aku hanya bisa histeris dalam bisu. Keluh tangis, minggir aku menyerah takkan punyai siapa dan mimpi apa lagi. Raga di kefanaan ini takut binasa, ku kan terus menyicil ‘hutang doa’ dan menjauhi penat masa yang menyita sia-sia perasaanku.

Aku begitu dalam berdoa kepada ilahi rabbi izzati, Ibu Ayah istirahatlah lebih dekat diperjumpakan kembali, mendekap kekal di surga. Doa untuk segalanya dan bahkan yang kemustahilan sebab yang kutahu tak pernah ada yang mustahil bagiNya.

Telah berpulang, tamatlah semua cerita kendati selangit kebaikan yang tersisa diwariskan. Meratap tangis, kehilangan manusia yang kucintai pergi ini benar-benar menyakitkan dan betapa hancurnya asa.

Keteguhan ikhlas menerima luka, dan belajar damai dengan takdir yang tak pernah aku pilih karena memang tak selamanya hari bisa kumiliki.

Aku mengerti hanya mimpi yang abadi, masanya semua akan tiba, nafas diambilnya tanpa seizin, tanpa tahu siapapun dan tidak bergantung pada sorak-sorai doa.

Tapi Tuhan, tahukah cerita paling indahku ketika masih bisa bercerita bersama mereka? Tahukah bagiku bahagia itu ketika masih punya mereka aku bisa bersimpuh di pangkuannya?

Jasa tak mampu ku membalasnya, tatkala ingat masa kecil dulu, tiap malam selalu ada cerita tengang malaikat, tentang monster yang tuntun tidurku dalam jaga.

  • Tags

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terkait
Berita Terkait