Beranda Sosok Kisah Inspiratif Ananto Isworo: Perintis Gerakan Sedekah Sampah Jogja yang Raih Kalpataru 2026

Kisah Inspiratif Ananto Isworo: Perintis Gerakan Sedekah Sampah Jogja yang Raih Kalpataru 2026

Ananto Isworo dinobatkan sebagai penerima Kalpataru Adya 2026, salah satu penghargaan lingkungan hidup paling bergengsi di Indonesia.

0
Ananto Isworo, Perintis Gerakan Sedekah Sampah Jogja yang Raih Kalpataru 2026

Di sisi lain, sebagai orang yang aktif berinteraksi dengan warga, ia juga sering mendengar persoalan lain yang tidak kalah mendesak. Ada anak-anak yang kesulitan membayar biaya sekolah hingga keluarga yang terkendala biaya pengobatan.

Keluhan warga soal pendidikan dan kesehatan membuat Ananto mencari cara agar bantuan sosial dapat terus berjalan tanpa bergantung pada donasi uang. Menurut Ananto, sampah yang selama ini dianggap tidak berguna sebenarnya masih memiliki nilai ekonomi jika dipilah dan dikelola dengan baik.

Pada 2013, bersama sejumlah warga termasuk Triono, ia kemudian memperkenalkan Gerakan Shadaqah Sampah. Konsepnya cukup sederhana. Warga diminta menyumbangkan sampah yang masih bernilai jual, seperti botol plastik, kardus, kertas, dan kaleng. Sampah kemudian dipilah, dijual, lalu hasilnya digunakan untuk program sosial.

Dua Tahun Hanya Dikerjakan Lima Orang

Awalnya, gagasan itu tidak langsung diterima. Banyak warga mempertanyakan mengapa sampah bisa disebut sebagai sedekah.

"Darimana nilai sedekahnya, wong itu sampah," katanya.

Keraguan masyarakat membuat gerakan tersebut berjalan lambat pada masa-masa awal.

Ananto pernah bercerita bahwa selama sekitar dua tahun pertama, hanya lima orang yang secara rutin terlibat mengelola sampah. Mereka memilah tumpukan botol plastik, kardus, dan barang bekas lainnya hingga sore hari setiap pekan.

  • Tags

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terkait
Berita Terkait