Ketiga lembaga juga menyoroti bahwa lonjakan harga energi dan pupuk akibat konfik di Asia Barat memberikan dampak tidak proporsional terhadap negara-negara berpendapatan rendah.
Kenaikan harga pupuk menjadi perhatian khusus karena banyak negara sedang memasuki musim tanam.
Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, sebelumnya memperkirakan bahwa ekonomi-ekonomi rentan akan membutuhkan bantuan keuangan antara 20 miliar hingga 50 miliar dolar AS (sekitar Rp356,4 triliun hingga Rp891,1 triliun) akibat dampak ekonomi dari konflik ini.
Sebagai respons terhadap krisis ini, pada bulan April lalu, para pimpinan IMF, Bank Dunia, dan IEA mengumumkan pembentukan kelompok koordinasi untuk menyusun langkah penanganan krisis, khususnya bagi ekonomi-ekonomi yang rapuh.
Sementara itu, ketegangan diplomatik masih berlanjut. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengumumkan bahwa pihaknya tengah melakukan pembicaraan dengan Oman mengenai pengelolaan Selat Hormuz di masa depan.
Langkah ini diambil di tengah ancaman sanksi dari Amerika Serikat terhadap pihak mana pun yang terlibat dalam sistem pungutan di selat tersebut.