Di sinilah refleksi Zygmunt Bauman menjadi relevan. Bauman menyebut masyarakat modern sebagai “cair”, di mana segala sesuatu berubah cepat dan tak pasti (Bauman, 2000). Dalam dunia seperti ini, pendidikan seharusnya membentuk manusia yang mampu mengambil tanggung jawab moral, bukan sekadar mengikuti aturan. Namun yang terjadi justru sebaliknya: pendidikan kita lebih sibuk menghasilkan kepatuhan daripada keberanian berpikir.
Ketiga, kebudayaan sebagai ruh pendidikan semakin terpinggirkan. Globalisasi dan digitalisasi membawa peluang besar, tetapi juga ancaman homogenisasi. Banyak sekolah lebih bangga mengadopsi kurikulum global daripada menggali kearifan lokal. Padahal, menurut Ki Hajar Dewantara (dalam bukunya Bagian Pertama: Pendidikan - Yogyakarta: Taman Siswa, berbagai edisi) pendidikan adalah proses “menuntun” segala kekuatan kodrat anak agar mereka hidup sebagai manusia dan anggota masyarakat. Jika kebudayaan diabaikan, maka pendidikan kehilangan akar.
Keempat, kebangsaan menghadapi tantangan serius di tengah polarisasi sosial. Data survei berbagai lembaga menunjukkan meningkatnya intoleransi di kalangan pelajar (Voaindonesia.com, 18 Mei 2023). Media sosial mempercepat penyebaran narasi kebencian, sementara pendidikan belum cukup kuat membangun daya kritis dan empati. Nasionalisme pun sering direduksi menjadi simbol dan seremoni, bukan praksis hidup bersama yang adil dan inklusif.