Beranda Kolom Fenomena Saham RANS: Antara Euforia, Kinerja Riil, dan Risiko Investasi Berbasis Public Figure

Fenomena Saham RANS: Antara Euforia, Kinerja Riil, dan Risiko Investasi Berbasis Public Figure

Sungguh sayang, gemerlap lampu panggung hiburan itu, gagal mempertahankan kilaunya di atas papan perdagangan saham.

0
Sumber foto : Jakob Jerdziki (pixels)

Penurunan pendapatan ini secara otomatis menggerus profitabilitas perusahaan. Laba bersih tahun berjalan RANS pada akhir 2025 tercatat sebesar Rp 56,69 miliar, atau merosot tajam sebesar 41,60% jika dibandingkan dengan perolehan laba tahun 2024, yang mencapai Rp 97,07 miliar. Di sisi lain, total aset perusahaan juga ikut menyusut dari Rp 590,80 miliar pada 2024 menjadi Rp 461,03 miliar pada akhir 2025. Data-data riil ini menunjukkan adanya kesenjangan yang besar antara popularitas sang pemilik di dunia digital dengan performa finansial riil perusahaan di atas kertas.

Guncangan Manajemen dan Agenda RUPSLB Perdana

Sentimen negatif pasar semakin diperparah oleh dinamika internal manajemen. Hanya berselang 12 hari setelah perayaan IPO, Grandi Prajayakti, selaku Direktur RANS secara mengejutkan mengajukan surat pengunduran diri pada 22 Juli 2026 dengan alasan pribadi. Meskipun manajemen menyatakan mundurnya petinggi ini tidak berdampak material pada operasional, momen yang terlalu dini ini tak pelak memicu spekulasi buruk di kalangan investor.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terkait
Berita Terkait