"Ini adalah rencana untuk menghapus karakter asli Gaza, mengubah sisa-sisa rakyatnya menjadi tenaga kerja murah untuk mengelola 'zona industri' mereka dan menciptakan garis pantai eksklusif untuk 'pariwisata'," tulis penulis Palestina-Amerika Susan Abulhawa di media sosial X, mengkritik visi "imperialis" yang dinilainya tidak melibatkan konsultasi dengan rakyat Palestina.
Sementara itu, Indonesia disebut-sebut telah menawarkan pengiriman hingga 8.000 tentara, menjadikannya salah satu kontributor terbesar bagi pasukan multinasional tersebut.
Presiden Indonesia termasuk di antara empat pemimpin Asia Tenggara yang dijadwalkan menghadiri pertemuan perdana Board of Peace di Washington pada Kamis ini.