Selain itu, hiperkolesterolemia familial juga termasuk kondisi genetik yang menyebabkan kadar kolesterol LDL sangat tinggi sejak lahir dan dapat memicu penyakit jantung koroner pada usia muda.
Terkait hipertensi, Febtusia mengatakan kondisi tekanan darah tinggi juga sering diturunkan dalam keluarga, dengan risiko lebih besar pada anak yang memiliki salah satu atau kedua orang tua penderita hipertensi.
Faktor genetik pada hipertensi, lanjut dia, dapat berkaitan dengan fungsi ginjal dalam mengatur keseimbangan natrium dan cairan tubuh, kekakuan pembuluh darah, serta respons tubuh terhadap hormon stres.
Ia menambahkan penyakit jantung dan hipertensi kerap berkembang tanpa gejala pada tahap awal, namun masyarakat perlu mewaspadai keluhan seperti nyeri dada, sesak napas saat beraktivitas, detak jantung tidak teratur, mudah lelah, pusing, hingga pembengkakan pada kaki atau pergelangan.
Bagi individu dengan riwayat keluarga penyakit jantung, ia menyarankan pemeriksaan kesehatan rutin minimal satu hingga dua kali per tahun.
Menurut dia, risiko penyakit jantung dan hipertensi turunan dapat ditekan melalui pola makan sehat dengan membatasi konsumsi garam, lemak jenuh, dan gula berlebih, serta meningkatkan konsumsi sayur, buah, ikan, dan biji-bijian.
Selain itu, masyarakat dianjurkan berolahraga minimal 30 menit per hari sebanyak lima kali dalam seminggu, menghindari rokok dan konsumsi alkohol berlebihan, menjaga berat badan ideal, serta mengelola stres dengan baik.