Profesor John Balmes dari University of California, Berkeley, ahli kesehatan lingkungan, mengatakan bahwa asap dari ledakan fasilitas minyak yang muncul di atas atau dekat wilayah padat penduduk merupakan situasi yang sangat langka dan berisiko.
"Ini dapat membuat penduduk Iran menghadapi risiko kesehatan jangka panjang. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa asap yang mengandung zat berbahaya terkait dengan berbagai jenis kanker," jelasnya.
Selain pencemaran udara, "hujan hitam" yang turun di Teheran juga mengalir ke saluran drainase dan selokan, bahkan sempat terbakar serta mencemari saluran air publik.
Kekhawatiran juga muncul terkait serangan terhadap fasilitas desalinasi air yang menjadi sumber utama air bersih di kawasan Timur Tengah.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menuding AS menyerang sebuah fasilitas desalinasi yang mengakibatkan terganggunya pasokan air bagi 30 desa di Iran.
Pemerintah Bahrain juga melaporkan fasilitas desalinasi mereka terkena serangan Iran pada 8 Maret, sementara Uni Emirat Arab dan Kuwait melaporkan beberapa fasilitas serupa turut terkena dampak.
Padahal, kawasan Timur Tengah merupakan wilayah dengan kelangkaan air terparah di dunia. Data World Resources Institute menunjukkan bahwa 83 persen populasi di Timur Tengah menghadapi tekanan air yang parah.