Ayahnya bernama Haji Abdul Karim Amrullah atau Haji Rasul, salah satu tokoh ulama pembaharu paling berpengaruh di Minangkabau pada awal abad ke-20. Dari sang ayah, Buya Hamka mewarisi kecintaan pada ilmu, keberanian menyuarakan kebenaran, serta pandangan progresif terhadap pembaruan Islam.
Sementara dari garis ibunya, ia mewarisi kelembutan, empati, dan kedekatan dengan tradisi sastra lisan Minangkabau. Julukan "Buya" berasal dari bahasa Minang yang berarti “ayah” atau “guru”, sebuah panggilan penuh penghormatan yang mencerminkan kedudukan beliau di hati masyarakat.
Kombinasi latar keluarga, budaya, dan lingkungan inilah yang membentuk pondasi karakter Buya Hamka sebagai sosok ulama yang tegas dalam prinsip, namun hangat dalam pendekatan.
Perjalanan Pendidikan dan Pemikiran Awal Buya Hamka
Sejak kecil, Buya Hamka dikenal cerdas, haus ilmu, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Ia memulai pendidikannya di Sekolah Desa di Maninjau sebelum melanjutkan ke Madrasah Thawalib Padang Panjang yang diasuh langsung oleh ayahnya, Haji Rasul, seorang ulama pembaharu terkemuka.
Namun, sifat kritisnya membuat ia tak puas hanya dengan pelajaran di kelas. Ia lebih senang belajar mandiri, membenamkan diri dalam buku-buku sejarah, sastra, dan pemikiran Islam, bahkan mempelajari literatur berbahasa Arab dan Melayu secara autodidak.
Perjalanan intelektualnya semakin berkembang ketika ia mulai berinteraksi dengan tokoh-tokoh pergerakan nasional dan pembaharu Islam.