CARAPANDANG - Penipuan online makin menjamur berkat adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI). Bukan hanya memudahkan kampanye kejahatan siber, AI juga membuat taktik penipuan makin canggih dan sulit terdeteksi.
Tool AI dengan biaya murah mampu memberikan akses luas untuk merekayasa gambar dan suara, serta menciptakan situs yang benar-benar tampak resmi dan sah.
Penipuan dengan mengandalkan AI banyak yang menyamar sebagai video-video iklan 'resmi' di media sosial seperti TikTok. Salah satu pengakuan jurnalis New York Times, ia melihat iklan sepatu Hoka dengan diskon 80% di TikTok.
Saat mengklik iklan tersebut, ia diarahkan ke situs yang benar-benar seperti asli dan resmi. Namun, ketika ia menambahkan sepatu yang diinginkan ke keranjang belanja, barulah muncul kecurigaan.
Ia lantas mengecek forum online Reddit dan menemukan korban yang sudah terjebak dalam situs tersebut. Bahkan, Hoka sudah mempublikasikan peringatan terkait situs palsu yang beredar dan mengatasnamakan merek tersebut.
Penyamaran situs asli ini merupakan salah satu dari beberapa modus penipuan online yang kian canggih di era AI. FBI melaporkan pada bulan lalu, penjahat siber telah menipu warga AS hampir US$21 miliar (Rp375 triliun) tahun lalu, dengan sekitar US$893 juta (Rp15 triliun) kerugian terkait dengan AI.