CARAPANDANG - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kesiapannya untuk "mengambil alih" minyak Iran dan mengindikasikan bahwa AS dapat menyita Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama negara itu, di tengah meningkatnya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah.
Dalam wawancara dengan Financial Times pada Minggu (29/3), Trump mengungkapkan bahwa opsi pengambilalihan fasilitas minyak Iran menjadi "hal favoritnya" seraya membandingkan pendekatan ini dengan kebijakan AS di Venezuela di mana Washington menguasai sektor minyak negara tersebut.
"Mungkin kita ambil Pulau Kharg, mungkin tidak. Kami punya banyak pilihan," ujar Trump, sebagaimana dikutip Bernama. "Saya rasa mereka tidak punya pertahanan. Kita bisa mengambilnya dengan sangat mudah," tegasnya.
Pernyataan ini muncul saat AS mengerahkan ribuan personel militer tambahan ke kawasan tersebut. Pentagon dilaporkan telah memerintahkan pengerahan 10.000 personel yang terlatih untuk operasi darat.
Sekitar 3.500 personel, termasuk 2.200 Marinir, telah tiba di kawasan pada Jumat lalu, sementara ribuan lainnya dari Divisi Lintas Udara 82 juga dalam perjalanan.
Seruan perang Trump datang di tengah serangan balasan Iran yang meluas. Kuwait baru-baru ini melaporkan serangan yang menargetkan pembangkit listrik dan instalasi desalinasi air di negaranya, yang menewaskan satu pekerja asal India. Pihak Kuwait menyebut serangan itu sebagai bagian dari "agresi Iran".