"Sudah tujuh tahun saya belum pulang lagi. Kadang saudara saya yang datang ke Jepang," ujarnya. Kisah hidup Agus tampaknya menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung. Banyak wisatawan yang datang ke tokonya setelah menunaikan salat di Masjid Nusantara Akihabara, menghabiskan waktu untuk berbincang dan bertukar cerita.
"Banyak yang tanya gimana kehidupan di Jepang, biaya hidup, kerja di sini seperti apa, dan bagaimana rasanya tinggal jauh dari Indonesia," katanya. Keakraban tersebut membuat toko milik Agus memiliki fungsi yang melampaui tempat berjualan suvenir. Bagi sebagian wisatawan Indonesia, toko itu menjadi ruang pertemuan informal untuk berinteraksi dengan sesama warga negara Indonesia saat berada jauh dari tanah air.
Berbagai macam suvenir gantungan kunci terlihat di etalase toko milik diaspora Indonesia di kawasan Akihabara di Tokyo, Jepang, pada 17 Juni 2026. (Carapandang/Xinhua/Indalia Jayadinata)
Menurut Agus, gantungan kunci atau yang akrab disebut "ganci" kini menjadi salah satu produk yang paling banyak dicari wisatawan. Harganya yang relatif terjangkau dan ukurannya yang kecil membuat barang tersebut mudah dibawa pulang sebagai oleh-oleh.
"Banyak turis cari barang yang sederhana tetapi tetap khas Jepang. Gantungan kunci biasanya paling cepat habis," ujarnya, sembari menunjukkan deretan suvenir di rak toko.