"Banyak profesional Gen Z mencari peran yang selaras dengan nilai-nilai mereka. Mereka umumnya fokus pada pengembangan rasa tujuan, yang melampaui jabatan pekerjaan tertentu," jelas Kelly Kennedy, Ed.D., direktur pembelajaran transformatif dan Cathleen Swody, Ph.D., berspesialisasi dalam kepemimpinan, kecerdasan emosional, empati, manajemen talenta, memotivasi karyawan, keterampilan komunikasi di tempat kerja, efektivitas tim, dikutip dari The Conversation.
"Gen Z lebih cenderung berkembang di lingkungan kerja yang memprioritaskan keragaman dan inklusi serta mendorong hubungan positif antar kolega," tambahnya.
3. Kesehatan mental menjadi bagian dari tolok ukur kesuksesan
Selama bertahun-tahun, kesuksesan sering diukur dari jabatan, gaji, atau aset yang dimiliki. Namun, banyak Gen Z mulai menyadari bahwa pencapaian tersebut tidak akan berarti jika harus dibayar dengan stres berkepanjangan, kelelahan, atau burnout. Karena itu, menjaga kesehatan mental kini menjadi salah satu indikator penting dalam mendefinisikan kesuksesan.
"Gen Z memprioritaskan keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi. Banyak Gen Z memasuki dunia kerja selama pandemik dan, karena itu, mereka tidak memiliki pandangan yang sama tentang pola kerja kaku yang dianggap wajar oleh generasi yang lebih tua sebagai satu-satunya cara," jelas konsultan CV, Elizabeth Openshaw yang ahli dalam peninjauan CV, mendukung para pencari kerja dan semua pihak yang terlibat dalam proses rekrutmen dikutip dari Career Minds.