Kementerian Pertahanan Meksiko mengakui bahwa operasi militer ini memanfaatkan informasi intelijen dari Amerika Serikat, yang sebelumnya menawarkan hadiah sebesar US$15 juta (sekitar Rp235 miliar) bagi informasi yang mengarah pada penangkapan El Mencho.
Deputi Sekretaris Negara AS Christopher Landau menyebut kematian El Mencho sebagai perkembangan besar bagi Meksiko, AS, Amerika Latin, dan dunia, seraya menggambarkannya sebagai salah satu gembong narkoba paling kejam dan bengis.
Operasi ini terjadi di tengah tekanan besar dari Presiden AS Donald Trump terhadap pemerintahan Sheinbaum untuk membendung aliran narkoba, khususnya fentanil, ke Amerika Serikat.
Trump sebelumnya berulang kali mengancam akan mengenakan tarif pada ekspor Meksiko atau bahkan melakukan intervensi militer langsung jika pemerintah Meksiko dianggap tidak cukup keras memerangi kartel.
El Mencho, mantan perwira polisi, memimpin CJNG yang berkembang menjadi salah satu organisasi kriminal paling kuat di Meksiko, bertanggung jawab atas penyelundupan kokain, metamfetamin, dan fentanil dalam jumlah besar ke AS.
Kematiannya menandai pukulan terbesar terhadap kejahatan terorganisir sejak penangkapan pendiri Kartel Sinaloa, Joaquin "El Chapo" Guzman.