CARAPANDANG - Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, Selasa (25/8) menyebut konfirmasi terjadi kelaparan di Sudan dan Jalur Gaza sebagai catatan sejarah yang memalukan dalam sidang Dewan Keamanan PBB mengenai kerawanan pangan global.
Guterres melaporkan bahwa 2025 tidak hanya mencatat jumlah konflik bersenjata tertinggi sejak Perang Dunia II, tetapi juga tingkat kelaparan global yang mencapai rekor, dengan sedikitnya 266 juta orang menghadapi kondisi kerawanan akut.
Ia mencatat bahwa kekerasan menjadi faktor utama pemicu kelaparan di 12 dari 13 wilayah yang paling terdampak.
“Sebuah kapal tanker minyak yang berlabuh di Selat Hormuz dapat berarti berkurangnya satu kali makan dalam sehari bagi seorang anak di Sudan,” kata Pelaksana Direktur Eksekutif Program Pangan Dunia (WFP) Carl Skau, seraya menggambarkan bagaimana perang di berbagai kawasan melalui jalur maritim dapat memicu kelaparan secara global.
Skau mencatat bahwa di Sudan, harga pangan pokok melonjak hampir 40 persen sejak Februari.
Krisis tiga titik penyumbatan
Skau memperkenalkan kerangka “tiga titik penyumbatan” yang mencakup Selat Hormuz, Laut Merah, dan Laut Hitam. Ia memperingatkan bahwa pembatasan di Selat Hormuz, yang menjadi jalur bagi sepertiga perdagangan pupuk dunia, telah menyebabkan ketersediaan pupuk anjlok, sementara harga minyak melonjak 36 persen sejak perang di Iran dimulai.