CARAPANDANG - Sejarawan dan intelektual Vijay Prashad mengatakan bahwa spirit Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955 di Bandung bukan sekadar nostalgia sejarah, melainkan agenda nyata yang masih relevan untuk menjawab krisis global saat ini.
“Ini bukan nostalgia. Ini tentang menyelesaikan masalah hari ini,” katanya dalam keterangannya, dikutip Senin, 20 April 2026.
Inti utama dari KAA menurutnya bukanlah isu keamanan, melainkan persoalan ekonomi dan kedaulatan atas sumber daya.
Dia mengatakan bahwa egara-negara di Global South sejak awal mempertanyakan mengapa kekayaan alam mereka harus terus mengalir ke luar negeri tanpa memberi manfaat maksimal bagi rakyatnya.
“Mengapa rakyat kita harus menggali kekayaan alam kita, lalu membiarkan kekayaan itu mengalir ke tempat lain? Mengapa kita tidak bisa mengolahnya sendiri, membangun industri kita, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat kita?”katanya menambahkan.
Menurutnya perdebatan yang dibicarakan pada saat KAA masih terjadi hingga kini, termasuk di Indonesia.