Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, dalam konferensi pers di Beijing pada hari yang sama, menyatakan bahwa pelantikan Mojtaba Khamenei merupakan keputusan internal Iran yang telah sesuai dengan undang-undang negara tersebut.
"China menentang campur tangan dalam urusan internal negara lain dengan dalih apa pun. Kedaulatan, keamanan, dan integritas wilayah Iran mesti dihormati," tegas Guo.
Pemerintah China juga kembali menyerukan penghentian segera operasi militer di Timur Tengah dan mendorong semua pihak untuk kembali ke meja negosiasi guna mencegah eskalasi konflik lebih lanjut.
Dukungan paling militan datang dari sekutu dekat Iran lainnya, Korea Utara. Pemimpin Tertinggi Kim Jong Un secara resmi menyampaikan selamat dan menegaskan komitmen Pyongyang dalam "Poros Perlawanan" terhadap Zionisme.
Dalam pernyataan resminya, Kim Jong Un menyatakan keyakinannya bahwa kepemimpinan baru di Teheran akan mampu melanjutkan warisan perlawanan pendahulunya.
"Kami mengucapkan selamat kepada Iran atas terpilihnya Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei, dan kami yakin bahwa pemimpin ini akan mempermalukan Israel dan menghancurkan kesombongannya, seperti yang dilakukan ayahnya," tegas Kim dalam pernyataan resmi yang beredar luas.
Dukungan ini menjadi sinyal diplomatik yang kuat di tengah eskalasi militer yang melibatkan Iran dan Israel.