CARAPANDANG - Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengakui bahwa komunikasi dengan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, saat ini berlangsung "sangat sulit" . Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara dengan televisi pemerintah untuk memperingati dua tahun pelantikannya, Rabu (5/8/2026).
Meskipun mengakui adanya kendala komunikasi, Pezeshkian menegaskan bahwa kehadiran Mojtaba Khamenei merupakan sumber kekuatan yang sangat besar bagi stabilitas negara di tengah tekanan global yang meningkat.
Ia menggambarkan pemimpin tertinggi sebagai sosok yang luar biasa dengan etika dan kerendahan hati yang mengesankan.
"Semakin terbuka para pejabat menyampaikan masalah kepada pemimpin tertinggi, semakin mudah untuk mencapai pemahaman bersama," ujar Pezeshkian.
Kesulitan komunikasi ini terjadi di tengah situasi yang ia sebut sebagai periode paling sulit bagi Iran sejak Revolusi Islam 1979, akibat kombinasi sanksi ekonomi dan konfrontasi militer
Sejak resmi menjabat pada 8 Maret 2026 menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan gabungan AS-Israel, Mojtaba Khamenei belum pernah muncul di hadapan publik dan hanya berkomunikasi melalui pernyataan tertulis.
Pezeshkian juga menuduh sejumlah pihak berupaya menciptakan perpecahan di dalam negeri dengan memanfaatkan isu nota kesepahaman antara Iran dan Amerika Serikat.