Beranda Kesehatan Peter Pan Syndrome: Ketika Dewasa Tak Selalu Berarti Siap Menjadi Dewasa

Peter Pan Syndrome: Ketika Dewasa Tak Selalu Berarti Siap Menjadi Dewasa

Istilah Peter Pan Syndrome pertama kali dipopulerkan oleh psikolog Amerika Serikat, Dr. Dan Kiley, melalui bukunya The Peter Pan Syndrome: Men Who Have Never Grown Up yang terbit pada 1983.

0
Ilustrasi

CARAPANDANG - Fenomena Peter Pan Syndrome kembali menjadi perbincangan publik, terutama di tengah meningkatnya pembahasan soal kesehatan mental dan kedewasaan emosional. Istilah ini merujuk pada kecenderungan seseorang (umumnya pria dewasa) yang enggan tumbuh secara psikologis dan menghindari tanggung jawab sebagaimana orang dewasa pada umumnya.

Istilah Peter Pan Syndrome pertama kali dipopulerkan oleh psikolog Amerika Serikat, Dr. Dan Kiley, melalui bukunya The Peter Pan Syndrome: Men Who Have Never Grown Up yang terbit pada 1983.

Nama tersebut diambil dari karakter fiksi Peter Pan karya J.M. Barrie, seorang anak laki-laki yang menolak untuk tumbuh dewasa dan hidup di Neverland.

Secara ilmiah, Peter Pan Syndrome bukan merupakan diagnosis resmi dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5), yang menjadi acuan gangguan mental dalam dunia psikologi dan psikiatri.

Namun, istilah ini digunakan secara populer untuk menggambarkan pola perilaku tertentu, seperti ketergantungan berlebihan pada orang lain, kesulitan mengambil komitmen jangka panjang, menghindari tanggung jawab finansial, serta kecenderungan menyalahkan lingkungan atas kegagalan pribadi.

Sejumlah psikolog menyebut fenomena ini berkaitan dengan faktor pola asuh, terutama pengasuhan yang terlalu memanjakan atau sebaliknya terlalu otoriter.

Anak yang tidak dilatih menghadapi konsekuensi sejak dini berisiko tumbuh tanpa kesiapan menghadapi tekanan dan tanggung jawab masa dewasa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terkait
Berita Terkait