Menurut laporan The Tribune, baik Iran maupun UAE sama-sama mengajukan tuntutan dalam pembahasan resolusi. Iran ingin BRICS mengutuk "serangan tidak beralasan" oleh AS dan Israel, sementara UAE mendesak agar tindakan Iran juga masuk dalam posisi bersama BRICS.
"Karena perbedaan kepentingan strategis, para anggota tidak dapat mencapai titik temu," tulis The Wire dalam laporannya.
Situasi ini kontras dengan kepemimpinan BRICS di bawah Brasil pada tahun 2025. Saat itu, Brasil berhasil menggalang 11 anggota untuk mengeluarkan dua pernyataan bersama pada Juni 2025 yang mengutuk serangan udara Israel terhadap Iran.
Pernyataan bersama pertama yang dikeluarkan pada 25 Juni 2025 saat perang 12 hari itu menyatakan "keprihatinan serius atas serangan militer terhadap Republik Islam Iran sejak 13 Juni 2025, yang merupakan pelanggaran hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa." India menjadi salah satu penandatangan pernyataan tersebut.
Kondisi ini memicu kritik di dalam negeri India. Partai Kongres mengecam pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi yang dinilai gagal menginisiasi pernyataan bersama seperti yang dilakukan Brasil.
Jairam Ramesh, Sekretaris Jenderal Partai Kongres, menuding Modi merendahkan nilai dan wibawa Presidensi BRICS+ demi menjaga hubungan baik dengan Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.