Berbagai persoalan yang dihadapi para penggembala saat menggembalakan ternak, seperti jauhnya jarak patroli, sumur air yang membeku pada musim dingin, pemberian pakan manual yang memakan banyak waktu dan tenaga, hingga banyaknya titik buta pengelolaan di padang rumput terpencil, dia catat satu per satu dalam buku catatannya dan diubah menjadi topik penelitian dan pengembangan.
Pada 2012, setelah lulus dari Universitas Pertanian Mongolia Dalam jurusan Mekanisasi dan Otomasi Pertanian, dia memilih meninggalkan peluang kerja di kota dan bertekad pulang serta menetap di kampung halamannya.
Dia berniat kuat memanfaatkan ilmu profesional yang diperolehnya untuk mengatasi berbagai tantangan industri tersebut, yang mencakup rendahnya efisiensi, tingginya biaya tenaga kerja, dan sulitnya pengelolaan penggembalaan tradisional, sekaligus menghadirkan "otak pintar" dalam bidang peternakan padang rumput tradisional.
Tanpa laboratorium yang terstandardisasi, hamparan padang rumput tanpa batas tersebut menjadi lokasi eksperimennya. Tidak dilengkapi dengan fasilitas pengujian yang presisi, dia mengandalkan peternakannya sendiri untuk berulang kali membongkar, melakukan pengawakutuan, dan menyempurnakan peralatan, mengoptimalkan solusi teknis melalui metode coba ralat (trial and error) secara berulang-ulang.