Di balik berbagai tekanan yang dihadapi, Indonesia justru memiliki sejumlah keunggulan yang mendapat pengakuan global. Beberapa di antaranya adalah keberhasilan dalam pengumpulan pajak ekonomi digital yang menempatkan Indonesia di peringkat tiga besar dunia, serta program Makan Bergizi Gratis yang menjadi salah satu investasi sumber daya manusia terbesar di kawasan. Meski demikian, Emaridial menilai keunggulan tersebut belum tersampaikan secara optimal di tingkat global.
Ia menuturkan bahwa di era saat ini, narasi telah melampaui fungsi sebagai pelengkap dan justru menjadi penentu arah ekonomi sebuah negara. Ketika negara gagal mendefinisikan dirinya sendiri, maka posisinya tidak akan dianggap penting oleh dunia.
Laporan tersebut disusun menggunakan kerangka Global Trust Intelligence (GTI), sebuah pendekatan analitik yang mengintegrasikan international marketing, neurosains, ketahanan non-militer, serta ekonomi Keynesian untuk melihat keterkaitan antar-isu yang sering luput dari analisis konvensional.
Di tengah persaingan narasi global yang semakin ketat, Indonesia dihadapkan pada pilihan untuk tetap menjadi penonton atau bertransformasi menjadi aktor yang diperhitungkan dalam percakapan dunia.
“Dalam konteks sistem global saat ini, ketidakterlihatan suatu entitas berpotensi membuatnya tidak dianggap eksis,” katanya.