Vardian menyampaikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah menekankan bahwa obesitas ini sebagai penyakit kronis pada tahun 2022. Hal ini lantaran penderita obesitas kerap memiliki berbagai penyakit penyerta, termasuk berkaitan dengan demensia dan Alzheimer.
“Kalau orang dibiarkan obesitas terus menerus, potensi terjadinya pikun atau Alzheimer itu akan meningkat. Turun ke pernapasan, orang obesitas biasanya masuk ke sleep apnea (henti napas saat tidur), ngorok,” ujar dia.
Dokter Vardian juga menyampaikan obesitas meningkatkan risiko stroke dan penyakit jantung. Pada organ jantung sendiri, penderita obesitas lebih rentan mengalami serangan jantung hingga gagal jantung.
Obesitas, lanjut Vardian juga menjadi faktor risiko terbesar diabetes tipe 2, fatty liver yang dalam jangka panjang dapat berkembang menjadi sirosis atau bahkan kanker hati, batu empedu, serta penurunan libido bisa terjadi karena enzim pada jaringan lemak mengubah testosteron menjadi estrogen, beban sendi.
“Kompleks banget kalau kita ngomongin obesitas. WHO sudah meng-highlight obesitas bukan hanya faktor risiko tapi penyakit kronis. Penanganannya tidak bisa niat aja, olahraga, makan dikurangi. Enggak sesimpel itu. Harus ada peran dokter, lifestyle modification, farmakologi (obat-obatan), dan mungkin operasi bariatrik,” imbuh dia.