“Nah kita harus tahu kan bagaimana perubahan itu terjadi. Oleh karena itu membutuhkan banyak manusia, baik yang sehat maupun yang sakit dengan segala macam jenis penyakitnya, untuk kita ambil datanya kemudian kita bandingkan,” katanya.
Budi mencontohkan, melalui pendekatan genomik, penyebab batuk pada seseorang dapat diidentifikasi secara spesifik sehingga obat yang diberikan langsung tepat tanpa perlu trial and error.
Selama ini, data genomik Indonesia banyak diolah di luar negeri. Namun dengan regulasi baru, seluruh data wajib disimpan di pusat data Kementerian Kesehatan untuk menjaga keamanan dan mencegah kebocoran.
Kemenkes saat ini tengah membangun database populasi dengan target 400 ribu data genomik pada tahun 2030.
Sementara itu, Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard menambahkan bahwa teknologi genome sequencing dapat menekan pemborosan anggaran kesehatan.
Terapi yang tepat sasaran akan membuat sistem pembiayaan kesehatan lebih stabil dan berkelanjutan di masa depan.
“Kalau terapinya tepat, pemborosan bisa dihindarkan. Kalau pemborosan bisa dihindarkan maka keuangan akan jadi lebih stabil dan sustainable ke depan,” kata Febri.
Pemerintah menempatkan inovasi ini sebagai bagian dari strategi menjaga kesehatan publik dalam rangka mencapai visi Indonesia Emas.