Lebih jauh, Wamen Fajar menilai bantuan tas dan sepatu tidak boleh dilihat sekadar sebagai pemberian barang. Bagi murid, perlengkapan sekolah yang layak dapat menumbuhkan rasa percaya diri, semangat hadir ke sekolah, dan menumbuhkan motivasi untuk mengikuti pembelajaran.
“Sepatu dan tas ini mungkin terlihat sederhana. Tetapi bagi anak-anak, ini bisa menjadi tanda bahwa mereka diperhatikan. Anak yang merasa diperhatikan akan lebih percaya diri. Dan anak yang percaya diri akan lebih siap dalam belajar,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemerintah telah memiliki berbagai program bantuan pendidikan, termasuk Program Indonesia Pintar (PIP). Namun, menurutnya, masih ada ruang kebutuhan di lapangan yang dapat diperkuat melalui kolaborasi masyarakat, dunia usaha, dan lembaga filantropi.
“Pemerintah punya PIP untuk membantu anak-anak memenuhi kebutuhan sekolah. Tetapi tentu masih ada ruang yang bisa diisi bersama. Di sinilah Benih Baik dan BYD mengambil peran penting,” jelas Wamen Fajar.
Wamen Fajar juga menilai visi BYD dalam energi terbarukan dan mobilitas listrik relevan dengan Gerakan Indonesia Asri yang diluncurkan oleh Presiden Prabowo, terutama dalam mengenalkan isu keberlanjutan dan kepedulian lingkungan kepada siswa sejak dini.
“Anak-anak perlu mengenal lingkungan, memahami tantangan pemanasan global, dan terbiasa dengan budaya sekolah yang aman, sehat, resik, dan indah. Energi terbarukan harus menjadi salah satu alternatif penting di masa depan,” pesannya.