Di saat yang sama, dia menyatakan bahwa banyak desa tradisional di Indonesia yang menghadapi tantangan modernisasi, pengembangan pariwisata, dan memudarnya teknik bangunan tradisional.
Menurut Veldesen, kedua negara memiliki potensi yang signifikan untuk menjalin kerja sama dalam bidang perlindungan warisan budaya.
Dia berharap semakin banyak arsitek muda, peneliti, dan mahasiswa dari kedua negara akan memiliki kesempatan untuk bertukar gagasan dan saling belajar dari pengalaman satu sama lain. Dia juga melihat potensi kerja sama yang besar di bidang teknologi digital, termasuk pemindaian 3D, kecerdasan buatan (AI), serta dokumentasi digital warisan budaya.
Hal yang tak kalah penting, ujarnya, adalah partisipasi masyarakat.
"Melindungi bangunan kuno saja tidak cukup. Masyarakat setempat harus tetap menjadi bagian dalam proses tersebut, agar warisan budaya terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat," ujar Veldesen.
Foto menunjukkan Pagoda Kayu Yingxian di wilayah Yingxian, Kota Shuozhou, Provinsi Shanxi, China utara, pada 12 Mei 2026. (Carapandang/Xinhua/Chen Zhihao)
Selama kunjungannya, Veldesen terus mendokumentasikan arsitektur kuno Shanxi melalui sketsa. Dia berharap gambar-gambarnya dapat membantu lebih banyak anak muda mengapresiasi keindahan dan makna budaya dari bangunan-bangunan tradisional.