Bukan hanya anak yang diminta meletakkan telepon genggamnya. Orang tua pun diajak memberi teladan. Satu jam tanpa distraksi digital, diganti dengan percakapan hangat, memasak bersama menjelang berbuka, salat berjemaah, atau sekadar duduk berbincang tentang hari yang telah dilalui. "Di tengah dunia yang serba cepat, satu jam itu mungkin terasa singkat. Namun bagi anak, perhatian penuh dari orang tua adalah investasi emosional yang tak ternilai," ungkap Endah.
Gerakan ini tidak hanya menyasar anak, tetapi juga orang tua dan masyarakat. Ramadan dipandang sebagai momentum kolektif untuk memperbaiki kualitas pengasuhan. Ketika orang tua belajar lebih sabar, lebih mendengar, dan lebih hadir, anak pun tumbuh dengan rasa aman dan percaya diri.
Memasuki 2026, KPPPA juga melanjutkan komitmen tersebut melalui kelas daring keluarga bertajuk “Kolak Ketan”. Nama yang ringan dan akrab itu dipilih agar suasana Ramadan tetap terasa hangat dan menyenangkan.
Melalui kelas-kelas ini, keluarga diajak belajar bersama tentang kesehatan, pendidikan, hingga pengasuhan positif. Bukan sekadar transfer ilmu, tetapi ruang dialog yang mempertemukan orang tua dan anak dalam semangat yang sama: tumbuh bersama.
Di tengah tantangan era digital, Ramadan menjadi ruang pulang tempat keluarga saling menguatkan. Ketika azan magrib berkumandang dan meja makan sederhana terhidang, di situlah percakapan dimulai. Dari cerita kecil, tumbuh rasa percaya. Dari kebersamaan, lahir karakter.