Survei kinerja usaha mengonfirmasi dampak positif tersebut. Sebanyak 76,93% pelaku usaha melaporkan peningkatan penjualan dan 73,08% mencatat kenaikan keuntungan selama Nataru.
Mayoritas pelaku merupakan usaha mikro, dengan kontribusi terbesar datang dari subsektor kuliner, fesyen, dan kriya.
Dari sisi belanja wisatawan, alokasi untuk produk kreatif seperti makanan, cenderamata, dan ritel mencapai rata-rata Rp858 ribu per orang.
Kontribusi langsung terbesar terhadap PDB ekraf berasal dari kuliner (Rp19,9 triliun), diikuti fesyen (Rp3,9 triliun), dan kriya (Rp0,24 triliun).
Menteri Riefky menegaskan dampak Nataru tidak bersifat sesaat, melainkan mencerminkan potensi strategis yang dapat dikelola berkelanjutan.
“Jika momentum seperti Nataru dikelola secara sistematis melalui Pasar Ekraf dan integrasi ekosistem, maka dampaknya tidak hanya mendorong PDB, tetapi juga memperkuat daya saing jenama lokal secara berkelanjutan,” tutupnya.