“Jika sebagian konsumsi energi industri dialihkan dari BBM dan LPG ke CNG, efisiensi biaya produksi dapat meningkat dan daya saing industri nasional ikut terdongkrak,” katanya.
Dari sisi ekonomi, lanjut dia, CNG dinilai lebih kompetitif dibandingkan energi berbasis minyak yang harganya fluktuatif mengikuti pasar global.
Selain itu, CNG memiliki keunggulan operasional karena dapat didistribusikan ke wilayah yang belum terjangkau jaringan pipa melalui proses kompresi bertekanan tinggi, sehingga membuka akses energi bagi kawasan industri baru maupun pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Negara dapat menekan impor dan subsidi energi, sementara sektor industri memperoleh energi yang lebih murah, stabil, dan ramah lingkungan,” ujarnya.
Lamhot menambahkan, penggunaan CNG juga menghasilkan emisi karbon lebih rendah dibandingkan BBM dan LPG, sehingga sejalan dengan target Indonesia mencapai net zero emission pada 2060 atau lebih cepat.
Komisi VII DPR RI, kata dia, akan mendorong kebijakan transisi energi dari berbasis minyak menuju alternatif seperti gas bumi, termasuk CNG.
“Ini merupakan langkah transisi yang rasional sebelum beralih sepenuhnya ke energi terbarukan,” katanya.
Namun demikian, Lamhot mengingatkan pentingnya kesiapan infrastruktur dan regulasi agar implementasi CNG berjalan optimal, termasuk pengembangan stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG), fasilitas kompresi, dan distribusi logistik.