Setelah lulus, ia berkarier sebagai konsultan survei dan perencanaan jalan raya serta jembatan. Dunia yang penuh hitungan, gambar teknis, dan logika pasti.
Ia sempat terbang ke Amerika Serikat untuk sekolah magister di University of Pennsylvania, mengambil bidang Transportation Economic Development, alias ekonomi pembangunan transportasi.
Baru di usia senja, arahnya berbelok total ke sejarah dan budaya. Dari insinyur infrastruktur, ia jadi peneliti sekaligus penjaga identitas leluhurnya sendiri. Dan rupanya, kegelisahannya sebagai narasumber yang mendorongnya kuliah lagi itu bukan satu-satunya bentuk kepeduliannya pada sejarah.
Jauh sebelum gelar doktor itu ia raih, Siahaan sudah lebih dulu bergerak di bidang kebudayaan. Ia mendirikan dan mengelola Rumah Budaya Medan, sebuah ruang yang menyimpan koleksi sejarah dan artefak lintas daerah. Bisa dibilang, gelar doktor yang ia kejar hanyalah satu babak dari perjalanan panjang yang sudah lama ia tempuh.
Dan tak lama sebelum kelulusannya, dari rumah budaya itu pula ia menyerahkan artefak bersejarah kepada Pemerintah Kota Semarang, sebuah kota pelabuhan tua yang punya jejak peradaban maritim sejak berabad silam.
Dua peristiwa ini, akademik dan kultural, sebenarnya berasal dari satu akar yang sama, yakni kecintaan Siahaan pada sejarah dan tekadnya untuk merawat ingatan kolektif bangsa.