Lebih lanjut, Hafidz Muksin menjelaskan bahwa pendekatan literasi mampu menciptakan suasana yang aman, menenangkan, dan menyenangkan bagi anak-anak yang mengalami tekanan psikologis pascabencana. Aktivitas membaca dan mendengarkan cerita membantu anak menenangkan emosi, mengalihkan ingatan dari pengalaman traumatis, serta kembali pada rutinitas belajar yang memberi rasa stabil dan terarah. Dalam konteks ini, buku tidak hanya berfungsi sebagai bahan bacaan, tetapi juga sebagai media pendampingan yang menumbuhkan harapan dan imajinasi positif.
“Anak-anak yang terdampak banjir memerlukan pendampingan agar tetap memiliki motivasi belajar dan rasa aman secara psikologis. Melalui buku dan aktivitas literasi, kami berupaya membantu mereka kembali beradaptasi dan pulih,” pungkas Hafidz Muksin.
Melalui bantuan pemulihan pendidikan ini, Kemendikdasmen terus berupaya mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua, dengan memastikan keberlangsungan layanan pendidikan di wilayah terdampak bencana, sebagai bagian dari komitmen negara dalam melindungi hak belajar setiap anak.