Tanpa berlama-lama, musik gamelan pun kembali dimainkan. Kali ini, pertunjukan semakin semarak dengan hadirnya para penari yang turut tampil di atas panggung.
Dua penari secara bergantian membawakan Tari Oleg Tamulilingan dan Tari Baris. Penampilan keduanya tak kalah memukau dan sukses menuai aplaus meriah dari ratusan, bahkan mungkin seribuan, penonton yang memadati area pertunjukan.
Kemeriahan belum berhenti. Suasana justru semakin memanas ketika suara "cak, cak, cak, cak, cak..." bergema dari mulut para pemain gamelan yang melantunkannya secara bersahutan. Seolah tengah tampil di teater terbuka Uluwatu, Bali, mereka berakapela sambil mengangkat tangan, menirukan gerakan khas para penari kecak dari Pulau Dewata.
Memasuki segmen penutup, euforia mencapai puncaknya. Para penonton diajak turun ke depan panggung untuk menari bersama diiringi ritme gamelan Bali yang berpadu dengan dentuman drum modern.
Dipandu oleh pembawa acara, para penonton mengikuti gerakan-gerakan tari Bali. Meski banyak yang tampak masih kaku, mereka tetap menari dengan penuh antusias tanpa henti. Raut kegembiraan terlihat jelas di wajah mereka.
Saat pertunjukan berakhir, para penonton spontan memberikan standing applause yang panjang dan meriah, menutup penampilan tersebut dengan kesan yang sulit dilupakan.
Begitulah suasana pertunjukan grup kesenian Bali bernama Gamelan Luz y Fuerza dalam ajang Aldea Global 2026 di Bosque de Chapultepec, Mexico City, Minggu (21/6/2026).