CARAPANDANG - Iran telah mengerahkan lebih dari satu juta personel militer dan pejuang sebagai persiapan menghadapi potensi invasi darat oleh Amerika Serikat, menyusul eskalasi konflik yang berlangsung sejak akhir Februari lalu.
Mengutip laporan kantor berita Tasnim, sumber militer Iran menyatakan bahwa selain mobilisasi lebih dari satu juta personel, terjadi lonjakan besar-besaran permintaan dari kalangan pemuda Iran yang ingin bergabung dengan Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC), milisi Basij, dan tentara reguler (Artesh) dalam beberapa hari terakhir.
"Ketika spekulasi beredar bahwa AS dapat melancarkan invasi darat di front selatan Iran, antusiasme di kalangan pasukan darat Iran sangat tinggi dengan semangat, 'Mari kita jadikan wilayah kita sebagai neraka bersejarah bagi Amerika,'" ujar sumber militer tersebut.
Komandan pasukan darat Iran, Brigadir Jenderal Ali Jahanshahi, memperingatkan bahwa perang darat akan "lebih berbahaya bagi musuh dan akan menimbulkan harga yang lebih berat serta tidak dapat pulih". Ia menegaskan bahwa semua pergerakan musuh di perbatasan terus dipantau dan Iran siap menghadapi segala skenario.
Pejabat militer Iran juga mengeluarkan peringatan keras bahwa Teheran akan membuka front baru jika AS melancarkan invasi darat atau terus melakukan tekanan militer.
Front tambahan tersebut akan dibuka di Selat Bab el-Mandeb yang strategis, menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.